Survey Membuktikan Orba Lebih Baik???
Survey Membuktikan Orba Lebih Baik???
oleh
Philips Jusario Vermonte
Peneliti CSIS yg sedang studi S-3 di Amerika Serikat
Pagi-pagi baca koran online, saya terkejut sendiri setelah membaca Kompas dengan judul berita "Survey Membuktikan, Orde Baru Lebih Baik". Survey dilakukan oleh Indobaromenter, dengan tajuk "Evaluasi 13 tahun Reformasi dan 18 Bulan Pemerintahan SBY-Boediono" (ini link beritanya: http://nasional.kompas.com/read/2011/05/15/15482036/Survei.Membuktikan.Orba.Lebih.Baik).
Menurut survey itu, seperti dikutip Kompas, 40,9 persen responden berpendapat bahwa Orde Baru lebih baik dibandingkan Orde Lama dan juga Orde Reformasi. Hanya sekitar 23 persen yang menyatakan bahwa Orde Reformasi lebih baik dari dua orde yang lain itu.
Menurut survey itu, Orde Baru juga dianggap lebih baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan keamanan.
Saya meragukan survey itu, karena dua hal mendasar. Namun keraguan ini tentu didasarkan hanya pada berita Kompas itu, belum membaca laporan lengkap survey tersebut apalagi melihat data mentahnya.
Pertama, sungguh ajaib responden ditanya pendapatnya tentang Orde Lama. Mereka yang memiliki pengalaman empirik terhadap Orde Lama, tentulah orang-orang yang terlahir sebelum tahun 1950-an, untuk cukup bisa merasakan bagaimana 'rasanya' hidup di era Orde Lama, dan berusia minimal 17 tahun ketika Orde Lama tumbang tahun 1965/1966 (sehingga cukup dewasa untuk mengerti keadaan). Ini asumsi rileks, bahwa saat berusia 17 tahun seseorang bisa menilai situasi ekonomi, politik dan sosial.
Mereka yang terlahir tahun 1950, di tahun 2011 ini sudah berusia 60-an. Sebatas informasi yang dimuat oleh Kompas, mungkin survey yang dilakukan Indobarometer bias ke kelompok umur 60-an ke atas itu. Dan ini membawa saya pada poin kedua berikut ini.
Kedua, saya melakukan simple chross check ke data penduduk Indonesia tahun 2005 (bisa dilihat di http://www.datastatistik-indonesia.com/component/option,com_tabel/kat,1/idtabel,116/Itemid,165/). Berdasarkan data penduduk itu, bisa dihitung bahwa kurang lebih 64% penduduk Indonesia berusia dibawah 34 tahun di tahun 2005.
Di antara mereka ini, kelompok usia tertua di tahun 1997/1998 adalah kelompok usia 30-34 tahun. Di tahun 1997/1998 itu, sebagian besar lainnya adalah mereka yang masih kuliah atau masih di bangku SMA. Sisanya masih siswa SMP/SD/TK/ dan banyak yang masih pakai popok...:-).
Kelompok usia 30-34 tahun ini, berdasarkan data penduduk Indonesia tahun 2005 tersebut, hanya berjumlah 8 persen dari total penduduk Indonesia. Artinya, hanya 8 persen yang pendapatnya dalam membandingkan Orde Reformasi dan Orde Baru boleh dibilang valid (di tahun 1997/1998 mereka berusia antara 22-26 tahun). Sementara kelompok umur 25-29 tahun di tahun 2005 berjumlah juga 8 persen ( tahun 1997/1998 mereka berusia 17-21 tahun).
Bila memakai data 2010 atau 2011, kurang lebih hal yang sama akan ditemukan bahwa 60-an persen penduduk Indonesia yang masih hidup saat ini tidak mengenal Orde Baru secara empiris karena tidak 'mengalaminya', apalagi Orde Lama. Terkecuali saya mendapat kesempatan melihat data mentah survey yang dilakukan oleh Indobarometer ini, saya meragukan kesimpulannya.
Boleh jadi, memang responden menjawab demikian dan surveyor menyimpulkan demikian. Kalau ini yang terjadi, konstruksi pertanyaan dalam survey itu penting dikaji ulang untuk mendapatkan jawaban yang 'valid'. Karena, bila mengambil contoh Amerika tempat saya sedang studi saat ini, itu ibarat bertanya kepada responden: lebih baik mana hidup di zaman Presiden Obama (tahun 2008-dst) dengan hidup di zaman Presiden Nixon (tahun 1970-an) dan di zaman Presiden Eisenhower (tahun 1950-an). Hanya segelintir orang yang bisa menjawab pertanyaan itu dengan valid.