Mahasiswa, Maha Siswa
Mahasiswa, Maha Siswa
(Catatan untuk Mahasiswa Universitas Lampung)
Oleh
Indra J Piliang
NB: Catatan ini diluar makalah panjang yang sudah dikirimkan ke panitia dengan judul: "BANGSA yang SekaraT: Refleksi Reformasi"
Sebagai mantan aktivis mahasiswa dalam lingkup UI, Jabotabek dan Indonesia – terutama di organisasi formal kemahasiswaan --, saya memberikan perhatian khusus atas dunia mahasiswa. Kebetulan, skripsi kesarjanaan saya juga tentang gerakan mahasiswa periode 1974-1980. Judul resminya: “Koreksi Demi Koreksi: Aktivitas Pergerakan Mahasiswa Indonesia Pasca Malari sampai Penolakan NKK-BKK (1974-1980)”. Tentu sebagai referensi atas skripsi itu adalah pergerakan mahasiswa sebelumnya, sejak zaman pra kemerdekaan.
Selain itu, selama menjadi mahasiswa di kampus dan pada fase pertama menjadi peneliti di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) sejak 1 Desember 2000, saya banyak menulis soal gerakan mahasiswa kontemporer. Dalam masa yang panjang itu, saya sering masuk kampus keluar kampus atau hadir dalam pelbagai pelatihan di organisasi kemahasiswaan di pelbagai daerah, terutama ekstra kampus seperti Himpunan Mahasiswa Islam, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, serta lainnya.
Pernah juga saya ke Lampung, memberikan pelatihan kepada sekelompok mahasiswa yang hampir 100%-nya adalah anak-anak dari kaum tani, nelayan dan buruh. Perjuangan mereka tidak terlepas dari keadaan yang buruk yang menimpa kaum tani, nelayan dan buruh, sehingga kesulitan dalam menyekolahkan mereka.
Ketika masih menjadi mahasiswa, saya punya kawan aktivis mahasiswa asal Universitas Lampung yang dikejar-kejar aparat. Aktivis pers kampus itu memotret penggunaan gajah-gajah yang dilatih di Way Kambas untuk mengusir pemukiman penduduk. Saya tidak ingat, untuk kepentingan apa penduduk diusir, barangkali untuk perluasan area perkebunan. Penduduk melaporkan ke mahasiswa bahwa mereka sering diserang gajah-gajah “liar”. Dengan lensa kameranya, sang teman tadi berhasil memotret cap tertentu di batok kepala dari “pemimpin” rombongan gajah “liar” itu. Ternyata, gajah itu dididik oleh negara.
Saya termasuk manusia yang beruntung, ketika meninggalkan Pariaman untuk merantau ke Jakarta. Sebelumnya, saya ikut Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) di Universitas Bung Hatta, Padang. Pilihan merantau hanya dua: kuliah atau jualan Sate Padang. Saya beruntung, karena diterima di Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra UI. Saya beruntung, karena menemukan lingkungan yang tepat untuk belajar. Walau sempat ingin UMPTN lagi, mengingat pilihan studi yang “tidak menjanjikan kemapanan pekerjaan”, saya tetap bertahan. Dalam keadaan tertatih-tatih sejak pertama kuliah, bahkan setelah menjadi sarjana ketika Indonesia ditempa badai krisis pada September 1997, tetap saja kehidupan sebagai mahasiswa menjadi bagian paling menakjubkan bagi saya.
Dan saya tidak sendirian. Barangkali sebagian besar mahasiswa asal daerah yang mengandalkan kemampuan diri sendiri, tanpa orang tua yang punya pengaruh apalagi harta, perjuangan menjadi mahasiswa adalah fase yang paling mendebarkan. Kalau tiba-tiba saya menemukan sejumlah kawan akhirnya mengundurkan diri dari dunia perkuliahan, atau jatuh kepada jenis kehidupan lain untuk bertahan hidup, barangkali itulah yang menjadi puncak dinamika anak-anak rantau. Di dalam catatan harian, saya mencatat sejumlah nama teman yang mengalami kondisi ketidak-stabilan, baik drop out di tengah jalan, tidak bisa membayar uang kuliah, pindah-pindah kost dengan cara menumpang, sampai yang benar-benar hilang tak tahu lagi ada dimana.
Dan ada gunanya menjadi aktivis mahasiswa. Kalau berkutat hanya di bangku kuliah, barangkali yang didapat hanyalah aktivitas akademik yang membosankan. Dengan menjadi aktivis, pelan-pelan terbangun pembelajaran paling alami bagi insan cendekia yang sekaligus manusia-manusia jelang dewasa. Perdebatan, pertengkaran, pertarungan gagasan, saling cerita tentang buku-buku bacaan masing-masing, sampai masalah yang paling pribadi, seperti jatuh cinta kepada mahasiswi lain, percintaan segitiga, serta cita-cita masa depan.
Tentu juga ada pengalaman relegius dalam komunitas. Kalau saya, dalam pemahaman agama Islam di perbagai kelompok pengajian. Seringkali kesadaran ini muncul sebagai etape yang penting dalam kesadaran relegius seseorang. Begitu juga dengan lalu lintas ideologi yang berdasarkan perspektif tokoh-tokoh lain. Buku, diskusi dan perdebatan membuka wawasan, sekaligus saling mempertukarkan, mempertarungkan, mempertahankan, atau bahkan menjadi pilihan yang dipercaya sampai usia pasca mahasiswa. Kebetulan, Fakultas Sastra UI, terutama jurusan Ilmu Sejarah, adalah titik dari pertarungan “kelompok mahasiswa ideologis” paling sengit di UI. Sebagai bukti, sebagian langsung bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik dan Partai Keadilan Sejahtera ketika pemilu 1999.
Kini, apakah mahasiswa Indonesia juga mengami hal yang sama? Saya kira sama, walaupun dengan pertarungan nilai yang tidak sekeras tahun 1990-an. Bedanya, zaman ketika saya kuliah – era 1990-an—adalah zaman yang dipenuhi oleh beragam dan bermacam pembatasan. Mahasiswa jarang yang terlibat dalam aktivitas politik. Kalaupun ada yang menjadi aktivis, sebagian besar larut ke dalam organisasi minat dan bakat, termasuk profesi masing-masing. Kelompok yang benar-benar aktif memikirkan dinamika politik sangatlah terbatas jumlahnya.
Bahwa kemudian ada mahasiswa yang memiliki preferensi terhadap ideology atau tokoh tertentu adalah wajar. Justru di sini letak seni kehidupan aktivis, saling mempertukarkan idea tau informasi, sembari memperbaiki informasi atau ide sendiri. Sebagai Sekjen Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah se-Indonesia (IKAHIMSI) periode 1995-1997, misalnya, saya mengadakan pertemuan dengan ikatan-ikatan mahasiswa yang lain dengan latar ilmu yang berbeda. Memang tidak sesolid berkumpul dengan mahasiswa dengan bidang studi yang sama, tetapi tetap membuka wawasan.
Atau, kalaupun aktif di tingkat jurusan, bidang-bidang studi yang menjadi minat mahasiswa berbeda-beda. Apalagi ilmu sejarah yang meliputi apa yang terjadi di masa lalu, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di negara lain. Membuat skripsi tentang sejarah Jepang, misalnya, terutama yang terkait dengan Indonesia, adalah hal yang dibolehkan. Jadi pada hakekatnya kesamaan jurusan tidak dengan sendirinya menyebabkan ilmu pengetahuan yang dimiliki menjadi homogen.
Yang menarik, sering saya menemukan teman-teman mahasiswa yang “salah jurusan”. Mereka meminati ilmu humaniora, misalnya, tetapi kuliah di fakultas teknik atau ekonomi. Saya juga terkadang mencuri ilmu di fakultas lain, baik dalam rangka seminar, maupun duduk mendengarkan para dosen berceloteh. Bagi mahasiswa yang haus ilmu pengetahuan, kampus UI menyediakan tempat untuk sit-in student. Bahkan, kalau mau, mahasiswa S-1 boleh saja ikuti kuliah S-2 atau S-3, tetapi yang tidak boleh adalah meminta nilai untuk aktivitas itu.
Begitupun ketika studi S-2 di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI. Beragam ilmu terhidang dengan bermacam metodologi. Saya kebetulan mengambil sudut yang sempit, namun sekaligus luas, yakni semiotika, dikaitkan dengan lambang Gerakan Aceh Merdeka dan Republik Indonesia. Lagi-lagi, ilmu sejarah bisa digunakan, sekaligus juga digunakan ilmu lain untuk meninjau satu hal yang mungkin sepele. Mungkin menjadi lebih mudah untuk menulis tesis tentang bahan bacaan tertentu di media massa tertentu, atau katakanlah pidato tertentu, misalnya dengan menggunakan analisis wacana. Namun, sekali lagi, bekas ingatan dalam studi kesarjanaan saya tidak bisa hilang sama sekali. Ia menjadi referensi sampai kapanpun.
Bahkan ketika delapan tahun menjadi peneliti CSIS, studi ilmu sejarah sangat membantu saya. Begitu juga nuansa kuliah di Fakultas Sastra atau yang kini menjadi Fakultas Ilmu Budaya (dan Humaniora, mestinya). Analisis politik saya selalu sulit meninggalkan sejarah. Kerangka teoritik saja tidak mampu menjelaskan dengan baik satu objek kajian, karena bagaimanapun kerangka teoritik itu pastilah dikembangkan untuk studi khusus di kawasan tertentu, objek tertentu, budaya tertentu, negara tertentu, dan lain-lainnya. Kerangka teoritik hanya memudahkan kita untuk melihat masalah, tetapi bukanlah cantolan kesimpulan yang harus disama-samakan.
Universitas adalah bagian dari semesta pengetahuan (universe). Jadi, agak sulit melihat kalau ada kampus yang menerapkan aturan yang ketat kepada mahasiswanya. Mahasiswa patut diberi kebebasan untuk mempelajari apapun, selama tugas pokoknya di jurusannya tidak terbengkalai. Kadang, tugas menjadi aktivis adalah membengkalaikan tugas kuliah. Ada yang memang disengaja, tetapi juga ada karena factor kejenuhan. Pembimbing akademik layak menjaga kualitas akademis mahasiswa jenis ini, agar tak ketinggalan di jurusannya sendiri, karena kebanyakan “nyambi pengetahuan” di jurusan lain.
Jadi, kalaupun menjadi aktivis mahasiswa yang bernuansa politik (dan ideology) bukan pilihan, tentu menjadi “aktivis ilmu pengetahuan” juga berguna. Memiliki banyak ilmu pengetahuan bukanlah kejahatan.
Mahasiswa adalah siswa yang maha, maha yang siswa. Kalau bukan itu, lantas apa?
Hotel Sedona, Manado, 17 Mei 2011
-
sepakat dengan bung Indra. menjadi mahasiswa aktivis ilmu pengetahuan amatlah penting, mengingat akhir-akhir ini gerakan mahasiswa justru mendapat sorotan tajam atau bahkan antipati dari masyarakat. bangsa ini butuh gagasan dan ide-ide besar untuk keluar dari sengkarut sosial yang kian banal.
Posted by sugianto on December 31st, 2011, 03:09:58 PM -
harusnya memang mahasiswa memanfaatkan waktunya dikampus sebaik mungkin.Menjadi aktivis ilmu pengetahuan spt yg diungkapkan bang Indra merupakan hal yg menarik dan sangat inspiratif bagi mahasiswa yg mau belajar byk hal.
Posted by Jabal Ali Husin Sab on July 15th, 2011, 04:26:46 PM -
maha siswa harus berwawasan luas.
kesempatan belajar harus dimanfaatkan untuk menambah ilmu dan berorganisasi, peduli pada rakyat semua.
tugas pokok belajar harus di no satukan.
lingkungan belajar harus mendukung.
Posted by arifin. on June 30th, 2011, 03:12:52 PM