Kronologi Penerimaan SMS "Nazaruddin"
Kronologi Penerimaan SMS "Nazaruddin"
Untuk menghindari kesalahan kutipan, bersama ini saya susun kronologis menyangkut penerimaan SMS dari nomor +6584393907 ke ponsel Nokia E7 saya dengan nomor +62812…..
Jum’at, tanggal 27 Mei 2011
Pagi saya ke kantor, The Indonesian Institute, Jalan Wahid Hasyim No. 194 Jakarta. Usai sholat Jum’at, saya janjian dengan teman-teman DPP AMPG yang sebagian besar berasal dari Komisi I DPR RI. Neil Iskandar, anggota DPR RI Komisi I, mengajak saya untuk datang ke Cibubur. Kebetulan di Cibubur sedang ada Jambore AMPG se-Indonesia yang dihadiri kurang-lebih 3000 orang peserta. Sebelum ke Cibubur, saya berangkat ke Wisma Kodel untuk satu keperluan. Kebetulan saya tercatat sebagai anggota Masyarakat Bangga Produk Indonesia (MBPI) yang berkantor di Wisma Kodel.
Di Cibubur, saya bertemu Yorrys Raweyai, Thantowi Yahya, Zaki, Neil Iskandar, M Sarmudji, dan pimpinan AMPG lainnya. Kami meninjau kegiatan kurang lebih 10 batalyon yang sedang melakukan pelbagai kegiatan fisik, seperti melewati sebuah danau dengan menggunakan tali. Sempat memberikan pesan dan kesan kepada peserta, setelah Thantowi Yahya dan Yorrys Raweyai. Saya diperkenalkan sebagai salah satu Dewan Penasehat DPP AMPG.
Lalu saya pulang, setelah sempat rapat sebentar di Posko Induk panitia. Saya dijemput oleh istri dan anak saya, Afzaal, yang baru pulang dari tempat terapi dan sekolahnya. Di perjalanan pergi ke Cibubur itulah saya mendapat telepon dari Metro TV untuk hadir dalam Metro Pagi, membahas laga final Liga Champions.
Kami kemudian makan di sebuah restoran Jepang di Hotel Sari Pan Pasifik. Pihak Metro TV meminta saya untuk menggunakan atribut Barcelona, karena memang tidak punya, saya dan keluarga ke Sarinah, lalu membeli satu kaos Barcelona dan syal Chelsea. Saya memang pendukung Chelsea (Liga Inggris), Barcelona (Liga Spanyol), Inter Milan (Liga Italia) dan Semen Padang FC (Liga Super Indonesia).
Karena harus berangkat pagi-pagi ke Metro TV, selain kelelahan karena banyak mengeluarkan keringat selama di Cibubur, saya tidur setelah di twitter menyampaikan sejumlah tweet menyangkut penipuan di facebook dengan motif berjualan barang. Ada 10 tweet yang saya buat dengan hastag #TipuViaFacebook. Ponsel sudah saya matikan sebelum pukul 00.00. Ada beberapa tanggapan, hanya sedikit yang saya balas, terutama datang dari sejumlah pihak yang juga menggunakan social media untuk berbisnis secara jujur dengan menggunakan rekening bersama.
Sabtu, tanggal 28 Mei 2011
Saya bangun lebih cepat, sebelum pukul 05.00, karena harus tampil dalam acara talshow Metro TV pada pukul 06.00-06.30.
Dalam perjalanan ke Metro TV, ponsel saya hidupkan di mobil, tepat pukul 05.20. Satu sms “asing” masuk dari nomor +6584393907 dengan isi “Demi Alloh, Saya M Nazaruddin telah dijebak, dikorbankan dan difitnah…” Selain itu ada sms dari pihak Metro TV yang mengingatkan saya untuk hadir sebelum pukul 06.00. Hanya perlu kurang dari 15 menit untuk mencapai Metro TV.
Reaksi saya atas #SMSSingapura itu biasa-biasa saja, sama dengan banyak sms asing yang saya terima sebelumnya. Sebagai Juru Bicara JK-Wiranto dalam Pilpres 2009, saya sudah terbiasa menerima puluhan sampai ratusan sms setiap hari, dengan berbagai macam nada, baik ancaman, pertanyaan, keluhan, dukungan dan lain-lainnya. Kehidupan sebagai politikus telah melatih saya untuk skeptis atas sms apapun yang masuk.
Karena itu juga, saya membuat tweet di akun twitter saya @IndraJPiliang dengan isi :
"Busyeet, pagi2 udah dpt sms dari nomor Singapura, ngaku bernama Nazaruddin. Mau bongkar ini itu di lingkungan Presiden SBY + PD. Dooh!"
Beberapa komentar muncul atas tweet itu. Saya menjawab:
"Yap! RT @angulon4wide: Sby nya dibongkar ga?RT @IndraJPiliang: Busyeet, pagi2 udah dpt sms dari nomor Singapura, ngaku bernama Nazaruddin"
"Gak enak bacanya, nyebut Mas Daniel Sparingga, Anas Urbaninggrum, Andi Nurpati, dan Big Boss RT @rohbudbud: @IndraJPiliang: share dong uda"
"Sy gak akan menebak2 siapa kirim. Sama dg akun2 anonim. Utk apa? Yg jelas, Nazaruddin bebas nlpn kmn2 skrg | @sigittricahyono @otong_otka"
"Kalau Nazaruddin di Indonesia, dia sulit berkomunikasi. Sdah disadap KPK. Di Singapura? Bebas hub siapapun! | @sigittricahyono @otong_otka"
“@IndraJPiliang: Dg Nazaruddin ke Singapura, ibaratnya Indonesia terlihat mini. Dia yg awasi Indonesia skrg. Beda dg dia tinggal di Indonesia.”
Setelah itu, saya tidak mentweet apa2.
Saya datang lebih dahulu dari Burhanuddin Muhtadi dan Muhammad Kusnaeni di Metro TV. Saya duduk sambil twitteran di parkiran. Kepada Burhan, saya sempat katakan perihal #SMSSingapura itu. Tapi Burhan, sebagaimana saya juga, hanya sedikit bereaksi. “Oh,ya?” saja yang keluar dari mulut Burhan.
Sepulang dari Metro TV pada pukul 07.00 lewat, saya langsung tidur lagi sampai pukul 10.00 lewat. Ponsel saya tergeletak di meja di luar kamar tidur. Saya dengar bunyi sms masuk, tapi tak saya hiraukan. Baru setelah bangun lagi, sekitar pukul 10, saya mengecek ponsel.
Pada pukul 11.54, saya menerima pesan teman saya Hardi Hermawan (wartawan Majalah Trust)
Ini dialog lengkapnya:
Hardi : “Bener lo terima sms Nazaruddin” (11.54)
Me (Saya) : “Bener” (12.04)
Lalu saya forward isi lengkap sms itu ke ponsel Hardi (12.05)
Hardi : “Yg beredar di email? Soal sby-ds, dll? Bener itu Nazar?” (12.06) (Hardi belum menerima kiriman saya, mungkin masih loading untuk sent, karena isi smsnya panjang).
Me : “Ini nmr hpnya +6584393907” (12.07)
Hardi : “Ok” (12.08)
Hardi : “Kpn lo terima sms-nya? Hari apa? Jam brp?” (12.11)
Me : “Pagi, jam 5am. Pas gw mau ke Metro TV. Mungkin dikirim sblm itu” (12.12)
Me : “Di message detil: 00.14” (12.13)
Hardi : “Ok. Tq. Gw cek dulu no-nya. Selain lo, siapa yg lg dpt langsung dr dia?” (12.15)
Me : “Wah, gak tau. (12.15)
Lalu saya dan keluarga menuju Tasikmalaya lewat jalur darat, setelah sholat Zuhur. Sepanjang jalan, saya sudah melupakan sms itu. Memang sempat membicarakan dengan keluarga ketika pertama kali masuk mobil, tapi saya menyampaikan sekilas saja. Biasanya saya tak mau membicarakan hal yang aneh-aneh dengan keluarga. Kami hanya tertawa-tawa membahas sms itu.
Sesekali saya memantau isi twitter selama di perjalanan. Soal sms ini sudah masuk menjadi pembicaraan di sejumlah akun. Sebelum mencapai Ranca Ekek, ketika melewati jalan tol Kota dan Kabupaten Bandung, saya mengirimkan tweet lagi:
“@IndraJPiliang: #IsiSMSNazar dari Singapura itu sy kira ada yg benar, kalau didalami. Terutama soal Bank Century dan kasus IT KPU.”
Tweet itu saya sengaja kirim, untuk menanggapi sejumlah tweet yang mengatakan bahwa isi sms itu tidak benar.
Lalu saya berdialog dengan Rano Karno yang merupakan “orang baru” di twitter, terutama membahas masalah perkayuan. Usai makan sekitar pukul 03.00 sore di rumah makan Simpang Raya, kami melanjutkan perjalanan menuju Garut. Saya sudah membaca banyak informasi di media online menyangkut sms itu. Ada beberapa grup bbm yang saya ikuti yang menanyakan soal bbm itu. Entah mengapa, saya tidak tergerak sama sekali untuk mengatakan memiliki sms aslinya. Selama ini saya memang membatasi bergosip-gosip, kecuali dengan kawan-kawan yang sangat dekat. Situasi di perjalanan, dimana saya memeluk Fadha, anak bungsu kami, juga tidak memudahkan saya untuk menggunakan blackberry. Apalagi saya duduk di depan, seperti biasanya, sembari mengawasi jalanan.
Untuk mengomentari sejumlah berita yang saya baca di twitter, lalu saya mengirim tweet sebagai berikut:
“Pengirim sms itu bisa siapa saja, tp sjmlh isu yg disiarkan sudah jd domain publik. Dan korban2nya sudah berjatuhan | @yudiharahap”
“Baru 1 sms, lho RT @nengherba: Cukup serius nih RT @Metro_TV: Heboh SMS Ancaman Nazaruddin http://t.co/rePG4FH via @AddThis @teatalua”
Sebetulnya, pada hari Sabtu itu, saya sempat menerima telepon dari wartawati Media Indonesia. Hasil wawancara itu muncul dalam:
http://www.metrotvnews.com/read/news/2011/05/29/53014/Indra-J-Piliang-Santai-Tanggapi-SMS-Nazaruddin
Perhatikan jam penayangan berita itu : “Minggu, 29 Mei 2011 01:47 WIB”
Ini isi berita itu:
Indra J Piliang Santai Tanggapi SMS Nazaruddin
Polkam / Minggu, 29 Mei 2011 01:47 WIB
Metrotvnews.com, Jakarta: Heboh SMS yang diduga dikirim mantan Bendahara Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin rupanya juga diterima oleh politisi Partai Golkar Indra J Piliang. Namun, Indra melihat pesan singkat bernada ancaman seperti itu sudah biasa terjadi dalam dunia politik.
"Ya, kalau menurut saya biasa saja. SMS seperti itu hampir setiap hari ada dan dikirim dari sumber yang anonim," ujar Indra saat dihubungi Media Indonesia, Sabtu (27/5).
Indra mendapat kiriman pesan singkat itu pada Jumat (27/5) tengah malam pukul 00.12 WIB. "Tapi saya baru buka dan melihat di telepon saya pukul 5.10 pagi. Kalau dilihat dari nomor pengirimnya memang dari Singapura," terangnya.
Ditanya apakah mempercayai isi pesan singkat tersebut, Indra mengatakan sebagian percaya, tapi sebagian tidak. "Mengenai manipulasi data IT 18 juta suara dalam Pemilu, kasus itu sebenarnya kan sudah lama, tapi baru sekarang dihembuskan lagi," paparnya.
"Begitu pula dengan Bank Century, mau dibongkar apanya lagi. Kan sudah menjadi pemberitaan di media," lanjutnya.
Indra lalu mengimbau kepada semua pihak untuk mengonfirmasi langsung kebenaran isi pesan singkat kepada Nazaruddin, bukan ke nomor pengirim. Apalagi, isi pesan singkat itu dinilai Indra gabungan yang sumir dengan informasi yang pendek.
"Pesan singkat yang berisi skandal seks antara SBY dan Daniel (Sparingga) juga terlalu tendensius," tandasnya. (MI/ARD)
Sampai malam, tidak ada yang serius, selain hanya kicauan tentang beragam hal di twitter, termasuk kasus keracunan yang menimpa kader2 AMPG di Cibubur yang hari Jumat sebelumnya saya kunjungi bersama Yorrys Raweyai, Thantowi Yahya, Zaki, Neil Iskandar dan lain-lain.
Masalah serius yang sempat saya tweet adalah menyangkut “hilangnya” Dana Bencana Gempa Sumbar sebesar Rp. 3,1 Trilyun. Masalah ini dibahas di milis Rantau-Net. Ada sepuluh tweets yang saya buat dengan hastag #DanaBencana.
Singkatnya, sampai dini hari, lebih banyak kicauan menyangkut situasi perjalanan saya, sampai soal Liga Champions. Karena memang baru pertama kali ke Tasikmalaya, lewat jalur darat dengan melewati Bandung dan Garut, tentu perhatian saya lebih banyak tertuju kepada apa yang saya lihat di perjalanan. Bentuk rumah, kondisi alam, warna sungai, aktivitas warga, dan lain-lain. Saya memang selalu senang dengan perjalanan, sembari memasang mata melihat sesuatu yang baru.
Minggu, tanggal 29 Mei 2011
Setelah sempat tertidur sebentar, karena kelelahan di perjalanan dan juga sempat menyaksikan aksi tawuran sejumlah anak muda di Singaparna, saya terbangun beberapa menit sebelum pertandingan dimulai. Kami sekeluarga menginap di Hotel Dewi, Singaparna, dengan mengambil tiga kamar. Ibu kandung saya juga ikut dalam perjalanan ini.
Dan sesuai prediksi saya di Metro TV, Barcelona mengalahkan Manchester United dengan skor 3-1. Datang sejumlah mention yang mengucapkan selamat atas tebakan saya, termasuk via bbm dan sms.
Dari hotel, kami ke lokasi kebun, ketemu dengan penjaganya: ayah dari seorang sopir pribadi di Jakarta. Kakek ini sekarang mengurus cucunya, karena menantunya baru saja meninggal dunia karena serangan kangker rahim.
Pada Hari Minggu sore, setelah melihat kondisi kebun saya yang tak berapa luas di Tasikmalaya, saya dan keluarga kembali ke Jakarta. Saya sempat tweet soal salak Tasikmalaya yang hanya dihargai Rp 3000 per 100 biji, alias Rp 500,- per kilogram di tingkat petani. Ada sejumlah masalah yang saya temui di lapangan, setelah berdialog dengan sejumlah orang. Di mana-mana, kita selalu berhadapan dengan potensi yang bagus di masyarakat, kekayaan alam yang melimpah, tetapi miskin pembinaan dan keahlian.
Kami sampai di rumah hampir jelang tengah malam. Badan terasa panas karena banyak mengeluarkan keringat ketika jalan kaki ke lokasi kebun yang berada di atas bukit.
Banyak isu menarik di “Republik Twitter”. Tapi biasanya, kalau kondisi badan dan pikiran tidak prima, saya mendiamkan diri saja. Toh Barcelona sudah menjadi juara Liga Champions dengan skor 3-1.
Senen, tanggal 30 Mei 2011
Senen pagi saya mengomentari akun @ulil soal mem-bully, me-mention, dan di-bully. Karena Ulil menyebut nama Bambang Soesatyo dan Partai Golkar, mau tidak mau saya mendudukkan persoalannya. Lalu, saya ketemu dengan Ketua Dewan Kehormatan DPRD OKU Selatan yang berasal dari Partai Bulan Bintang di Hotel Jayakarta. Sejumlah sesi tanya jawab, ketimbang memberikan “paparan pelatihan”. Sejumlah hal dia tanyakan menyangkut fungsi dan wewenang Badan Kehormatan, sekaligus isu-isu politik terbaru.
Lalu saya ke kantor di The Indonesian Institute, menyelesaikan sejumlah pekerjaan. Saya sempat dimention agar menyaksikan keterangan pers Presiden SBY yang hendak berangkat ke Pontianak di Lapangan Halim. Tapi saya sedang menulis untuk Harian Haluan. Saya tidak mengikutinya lewat layar televisi. Tapi saya membaca pidato itu di internet.
Sekadar menjawab sejumlah mention, saya berkomentar pendek di twitter soal pidato itu:
“Jgn2 film2 Kuntilanak, Genderuwo, Suster Ngesot, dll itu shooting di Istana, ya? Soalnya: "Pengecut! Tdk menampakkan diri!"”
“Negara sebesar ini sudah bbrp hari berurusan dg pejabat sebuah parpol yg dipecat, rapat2 darurat, kini soal sms gelap. #Negaraku”
“Intel2 di twitter hati2. Dulu Presiden pernah laporkan seseorg ke Polda Metro Jaya. Eh, dlm pemilu malah jd caleg partainya Presiden :D”
“Semua upaya, usaha, tenaga, biaya, dll, kini diarahkan utk mengegolkan RUU Intelijen, dg beragam isu dll. Hati2, tweeps...”
Saya pulang usai 3in1, lewati Istana Negara. Di rumah, saya membaca disain paper dari LIPI menyangkut Cyberdemokrasi. Saya mengira acaranya pada Selasa, 31 Mei 2011. Sejumlah tweets saya buat menyangkut cyberdemokrasi itu, sambil membaca, termasuk mengutip artikel2 Yasraf Amir Piliang.
Kebetulan TV One menelepon agar saya hadir dalam AKI Pagi. Dalam pembicaraan, ketika saya tanya apa topiknya, dikatakan soal sms, twitter, dan lain-lain. Kebetulan yang lagi ngetrend adalah soal @Benny_Israel. Saya mengirim tweets:
“O,ya, sblm lupa: besok pagi sy dg Kang @ulil akan membahas akun @benny_israel di @tvOne, acara AKI Pagi :D”
Ya, memang simplifikasi saja, karena saya kirim ke dunia twitter. Akun Benny memang terkenal.
Selasa, 31 Mei 2011.
Dalam acara AKI Pagi di TV One itu saya hadir bersama Ulil Abshar Abdalla dan Ikrar Nusa Bhakti. Kami membahas isi konferensi pers Presiden SBY sehari sebelumnya. Kelihatan sekali betapa Partai Demokrat ingin mengarahkan dan menimpakan “kesalahan” kepada pihak lain.
Saya langsung teringat sms yang saya terima. Lalu saya buka ponsel saya, saya berikan kepada Indy Rachmawaty. “Saya juga terima sms itu,” kata saya. Lalu Indy memperlihatkan kepada penonton.
Dalam hati saya hanya berpikir bahwa sms itu bukanlah sms gelap. Selama ini berkembang di social media bahwa nomor Singapura itu rekaan alias tidak ada. Rupanya, memang belum ada yang mengakui mendapatkan kiriman sms itu. Secara spontan, saya mengatakan menerima sms itu. Toh saya sudah katakan di twitter kalau memang saya menerima sms itu, bahkan sudah ada wawancara dari Media Indonesia.
Usai dari TV One saya pulang ke rumah, lalu sama anak dan istri saya mengurus BPKB mobil Isuzu Panther. Mobil yang khusus saya beli untuk kepentingan kampanye pemilu 2008 itu sudah selesai kreditnya lewat Bank Jasa Jakarta. Jadi, per tanggal 1 Juni 2011 mobil kami satu-satunya itu tidak lagi dikenai kewajiban untuk membayar bulanan ke bank. Jadi, suasana hati kami sekeluarga seperti sebuah pesta.
Sampai di The Indonesian Institute saya agak terkantuk di kursi. Rencananya mau membuat catatan atas paper riset disain LIPI soal Cyberdemokrasi. Saya malah menyelesaikan artikel untuk harian Haluan soal hilangnya dana bencana alam Sumbar yang Rp 3,1 Trilyun. Langsung saya kirim.
Siangnya telinga sebelah kiri saya berdenging. Feeling saya mengatakan akan ada sesuatu. Ada beberapa sms yang masuk menanyakan isi #SMSSingapura itu, minta dikirimkan. Hanya ke satu orang sy kirimkan, karena dia menggunakan bahasa Minang yang baik yang kira-kira isinya: “Saya ini adik abang, saya pasti akan menjaga kepercayaan abang.” Kepada yang lain saya hanya mengirimkan jawaban yang kira-kira isinya: “Nanti anda dapat masalah”.
Di twitter saya membahas hasil survei LSI, terutama berkaitan dengan Partai Golkar.
Betul saja, saya menerima telepon dari Ajun Komisaris Polisi Sylvester Simamora. Dari nada suaranya saya tahu bahwa Sylvester ini adalah “orang seberang”. Intinya, Sylvester memperkenalkan diri dari Bareskrim Mabes Polri. Karena mendengar di TV One bahwa saya memiliki sms asli, maka Mabes Polri perlu menyalin sms itu dalam bentuk aslinya sebagai barang bukti. Sylvester mengatakan ingin menemui saya, kapan saja saya bersedia, baik di rumah atau di kantor.
Saya memang agak kaget. Tapi karena saya merasa tidak melanggar hukum apapun, sekaligus saya ingin menunjukkan ke masyarakat bahwa sms itu memang ada, maka saya langsung sanggupi.
Lalu, saya menunggu. Di twitter saya tulis begini:
“Perintah Presiden SBY memang ampuh. Sebentar lagi ada bbrp AKBP dari Mabes Polri mau memeriksa ponsel Nokia E-7 sy :D”
Beberapa tanggapan masuk, termasuk lewat grup bbm. Ada yang mengingatkan saya bahwa kemungkinan besar seluruh data di ponsel saya akan disedot atau dipindahkan. Justru saya makin tertarik, terutama untuk melihat sejauh mana pihak Mabes Polri Indonesia memiliki peralatan yang digunakan untuk mengatasi kejahatan di bidang teknologi.
Saya menghubungi sejumlah pengacara. Kebetulan lagi di luar kota. Yang di Jakartapun tidak bisa datang. Saran mereka, jangan sampai saya menyerahkan ponsel yang saya miliki. Soalnya apa? Ini bukan proses penyelidikan yang menetapkan saya sebagai saksi atau tersangka, misalnya. Jadi, tidak ada pihak manapun sebetulnya yang berhak mengambil data apapun dari ponsel pribadi saya. Saya juga masih punya waktu untuk menghapus sms itu, termasuk data-data lain di ponsel saya.
Namun saya berpikiran lain. Bahwa “tempat gelap” itu mesti dibuat terang. Kenapa mesti takut menghadapi “tempat gelap” yang sebenarnya terang benderang, apalagi lewat teknologi informasi? Kalau ada sesuatu yang jauh lebih dahsyat lagi bagaimana? Biarlah saya korbankan sedikit privacy yang saya punya untuk mengungkapkan masalah ini dengan cepat.
Saya juga menghubungi wartawan. Minimal, mereka menjadi saksi proses pemeriksaan terhadap saya. Dan tentu yang pertama kali saya kontak adalah Hardi Hermawan, karena hanya dia yang saya kirimkan sms itu pada hari Sabtu siang, 28 Mei 2011 itu.
Tiga orang polisi dari Bareskrim Mabes Polri datang dengan peralatan lengkap. Meraka adalah AKP Silvester Simamora, Briptu Bambang Haryanto Siregar dan Briptu Aditya Cahya. Sylvester menyerahkan kartu anggota sebagai polisi. Bagi saya itu sudah cukup, apalagi perawakan mereka memang masih muda. Saya cukup bangga juga mengetahui bahwa polisi-polisi di Indonesia sudah semakin profesional dan gagah.
Mereka bekerja, mengambil ponsel saya, lalu menyambungkan dengan peralatan yang mereka punya. Kebetulan, Sylvester sudah menelepon saya, tentang jenis ponsel yang saya punya. Saya jawab: Nokia E-7. Saya memang selalu menginginkan teknologi ponsel atau laptop terbaru, sekalipun hanya saya gunakan untuk kebutuhan terbatas.
Selama proses pemindahan data itu, saya berbicara lebih banyak dengan Sylvester. Kepada dua polisi lain saya juga berdiskusi. Saya ajukan sejumlah pertanyaan. Dari jawaban-jawaban mereka itulah saya ketahui kenapa masalah sms saya ini menjadi penting. Selanjutnya mereka menjelaskan bagaimana cara kerja kepolisian dalam hal ini.
Jadi, selama satu jam itu, saya tidak mendapatkan pertanyaan sebagaimana pemeriksaan biasa. Apa yang mau ditanya? Saya berbohongpun tidak akan bisa, karena seluruh jejak digital ada di ponsel saya. Jadi, ketika seluruh data ponsel saya berpindah ke laptop polisi, saya hanya becanda saja.
Sylvester mengatakan bahwa yang diambil hanya sample dari sms yang asal Singapura, serta tentunya kemana saja saya kirimkan sms itu (ke Hardi Hermawan pada Sabtu, 28 Mei 2011 dan ke seseorang dari Pesisir Selatan usai acara TV One tadi pagi). Seluruh data saya yang lain menjadi tanggungjawab polisi untuk menghapusnya di laptop mereka, termasuk sms-sms saya dengan keluarga, message di inbox, sent. Jumlah inboxnya sekitar 900-an dan sent sekitar 520-an.
Sekalipun ketiga polisi itu tidak menggunakan kamera, saya tahu bahwa mereka pasti menggunakan rekaman di balik baju mereka yang rapi :D Jadi, keterangan saya bisa langsung mereka dengarkan kembali. Sementara, informasi dari mereka, cukup saya rekam lewat ingatan.
Sementara, itu dulu.
Jakarta, 2 Juni 2011
Indra J Piliang, Ketua Departemen Kajian Kebijakan DPP Partai Golkar, Deputi Sekjen DPP MKGR, Wasekjen DPN HKTI dan tetap seorang analis, sejarawan dan seseorang yang skeptis terhadap dunia, sekaligus berusaha untuk memperbaiki apa-apa yang bisa diperbaiki.
-
Sebagai salah satu guru pertukaran dari Jawa Barat ke Sumatera Barat, saya bangga atas keberanian abang yang berasal dari Sumbar dan kini menjadi tokoh nasional menjadi kunci pembuka tabir gelap menjadi terang benderang. Semoga, kebenaran tetaplah kebenaran.
Posted by Rizal Maulana on June 10th, 2011, 07:24:35 PM -
Bung Indra J.Piliang: Itulah protret dari wajah Demokrasi Indonesia yang telah melakukan "REFORMASI " yang sudah 13 berjalan...kebenaran adalah kebenaran suatu saat akan muncul kebenaran yang sesunggunya...! Analisa saya dari semua kejadian-kejadian akhir2 ini di indonesia bukan tidak punya maksud ada sasaran yang dicapai,ini salah satu model politik oligharki partai incumbent untuk memuluskan tujuanya, salah satunya dalah UU Intelejen.....!klo ini da terbentuk UU Intelejen ,wa....wa kita kembali kebelakang seperti tahun 1970 an ini sangat berbahaya buat Indonesia bung Indra...! trs apa yang harus kita lakukan untuk menghadang ini semua...jawabanya kita harus bersatu padu menghadapi ini semua...jadi suatu kejatan yang tersrtuktur dan masif harus kita lawan juga secara bersama-sama dg seluruh lapisan masyarakat dan komponen bangsa,karna hanya itu kekuatan yg kita bisa pergunakan bung...tentu buat para politikus hrs melakukan perlawanan juga secara politis.trims bung,wassalam...........
Posted by Budi Bdg on June 3rd, 2011, 06:35:52 AM -
Tetap semangat bang. Dan selalu update kabar2 terbaru ya di twitter. :)
Posted by Dedy Lamsari on June 2nd, 2011, 06:37:54 PM -
Sy yakin om tdk melakukan kesalahan apa2! Dari NTT, sy cm dukung om lewat doa! Gutlak uncle :))
Posted by keizhanov zerafim on June 2nd, 2011, 06:15:02 PM -
mantap bang.... lanjut terus tweet2nya!!
Posted by arLo on June 2nd, 2011, 05:28:50 PM -
bak mambaco buku e ES ITO..
tapi masih pemanasan yo Da?
ditunggu sambuangan nyo..!
nan mudo nan bacarito tentang
ketidakadilan sang panguaso..
alam takambang ko pasti malindungi uda..!
Posted by abdi on June 2nd, 2011, 03:43:27 PM -
bravo bang... Tetap smangat dan kebenaran akan terungkap,,,. Ambon Guest House..
Posted by Tuariq-Mollah Harmainy on June 2nd, 2011, 02:44:20 PM -
Ass....salut pak Indra...Jangat Takut dan Resah....Kebenaran Tak akan kalah.....
Posted by Asep Somadiputra Rimbawan on June 2nd, 2011, 02:41:44 PM -
Wah, ternyata semua masih tercatat dengan baik...semoga bung Indra tak apa-apa dan terus enjoy. salam jauh dari Aceh
Posted by Taufik Al Mubarak on June 1st, 2011, 06:39:48 PM