Cara H Zulkifli Hasan SE MM Menerima Nasib Menjadi “Orang Hutan”
Selasa, 20 September 2011
Sumber : http://www.indopos.co.id/index.php/index-catatan-don-kardono/14112-cara-h-zulkifli-hasan-se-mm-menerima-nasib-menjadi-orang-hutan-2-habis.htmlCara H Zulkifli Hasan SE MM Menerima Nasib Menjadi “Orang Hutan”
Di Mana Bumi Diinjak, di Situ Langit Dijunjung
Hampir di semua tempat, Menteri Kehutanan H Zulkifli Hasan SE MM selalu saja menemukan sisi lain yang khas dan beraroma local genius. Solusi kreatif yang menginspirasi dan menghimpun banyak energi positif untuk menuntaskan satu persatu problematika kehutanan. Caranya berbeda-beda, prinsipnya sama! Yakni, “berdamai” dengan alam!
KEARIFAN LOKAL! Adalah pendekatan khas, menemukan solusi-solusi lokal untuk menjawab persoalan lokal. Setiap daerah bisa jadi berbeda. Tiap wilayah punya gaya, cerita dan makna yang bervariasi. Perbedaan cara itu tak perlu dipersoalkan, karena itu justru kekayaan budaya negeri yang perlu diapresiasi.
Orang Padang bilang, di mana bumi di pijak, di situ langit di junjung. Cara Walikota Solo, Joko Wiyono dalam memberdayakan publik agar Kota Bengawan itu terlihat hijau alami amat khas. Dia mengajak warganya untuk mengganti pagar tembok rumahnya dengan pagar tanaman hijau. Dia buatkan beberapa contoh dan foto-foto model pagar hidup yang artistik dengan kombinasi warna warni bunga dan tanaman rambat.
“Itu cara khas Solo yang patut diacungi jempol,” puji Zulkifli. Dengan mengganti pagar tembok dengan tanaman, kata dia, pemandangan hijau ada di mana-mana. Tidak lagi banyak pagar yang terkesan angkuh dan tidak bersahabat. Pohon memberi nuansa lebih ramah, segar, sehat dan menyatu dengan alam. Model ini jauh lebih ekonomis, ramah lingkungan, dan tetap bernilai artistik.
“Pohon-pohon itu menjadi antioksidan yang alami. Ini trik yang boleh dikembangkan di mana saja. Itu juga menandakan, bahwa keamanan di kota itu makin terjamin baik. Tidak perlu pagar tembok tinggi-tinggi seperti Tembok China saja. Kemajuan persepsi publik yang sangat jauh ke depan,” jelas Menhut yang berasal dari PAN ini. Aktivis-aktivis ibu kota berbeda lagi.
Melalui media sosial dengan akun Zul_Hasan, Menteri Kehutanan ini juga memperoleh pengalaman yang genuine. Pada suatu malam, pukul 23.00, dia memperoleh twit dari seorang pengamat politik Indra J Piliang. Dia memposting pesan, bahwa malam itu di Padang Pariaman, ada harimau liar masuk kampung dan ditangkap penduduk. Dia pun mencari tahu di mana koordinat Harimau Sumatera tersebut berada.
“Malam itu juga saya hubungi sana-sini, untung pada belum tidur, sehingga malam itu juga petugas Kehutanan bisa menemukan tempatnya, dan mengamankan binatang langka yang dilindungi itu,” kata pemilik zodiac Taurus itu. Tiga jam sesudahnya, dia me-retwitt pesan Indra J Piliang, bahwa si loreng yang bernama latin Panthera Tigris Sumatrae itu sudah berhasil diamankan petugas kehutanan, setelah bernegosiasi alot dengan. Warga meminta ganti kambing dan sejumlah uang, dan itu semua disanggupi oleh Menhut.
“Alhamdulillah, harimau sudah berada di tempat yang aman. Tim kami sudah berkomunikasi dengan teman-teman Sumatera Barat, dan sudah ada kesepakatan dengan penduduk,” replay Zulkili Hasan. Jamaah twitter yang makin akrab dengan warga ibu kota pun menjadi ramai memperbincangan peristiwa itu. Ternyata twitter bisa dijadikan sarana untuk mereformasi birokrasi. Twitter juga bisa menyelamatkan binatang yang sudah dikategorikan sebagai “satwa kritis” yang terancam punah atau critically endangered itu.
Bahkan, jenis ini sudah dimasukkan daftar merah yang tidak boleh dibunuh lagi, seperti yang pernah dirilis Lembaga Konservasi Dunia (IUCN). Twitter juga bisa membuat laporan masyarakat cepat ditanggapi, cepat ditindaklanjuti, dan cepat memperoleh respons. Twitter betul-betul dirasakan sebagai media sosial yang membuat hidup lebih mengglobal. “Anda bisa bayangkan, malam itu saya di Senggigi, Lombok. Indra J Piliang yang memberi info itu ada di Jakarta. Peristiwa harimau ditangkap warga itu ada Sumatera Barat. Kami tiga pihak di tiga pulau yang berbeda. Tetapi bisa terkoneksi dengan baik oleh media sosial. Ini sangat khas Jakarta,” ungkap dia.
Berbeda lagi dengan suasana di Tarutung, Balige, Sumatera Utara. Menhut sempat dibuat terkesima dengan semangat siswa-siswi SMA Soposorong yang amat masyhur itu. Sekolah yang dibangun oleh tokoh nasional TB Silalahi itu, sejak awal sudah dididik untuk cinta alam, cinta lingkungan, gemar menanam, dan menyatu dalam naturalitas alam.
“Mereka punya kebun bibit yang luar biasa, membuat kita merasa trenyuh, dan membangkitkan optimisme yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Mereka adalah generasi pro lingkungan yang sangat memberi angin dan harapan,” puji Zulkifli. Ada sisi lain di sudut pantai teluk Jakarta. Menhut mengisahkan seorang tokoh yang merelakan tenaga, pikiran, sampai ke beban biaya demi mangrove. Pohon penahan aberasi pantai, yang tumbuh di air laut.
“Namanya Ibu Murni! Dia orang yang rajin dan tekun, atas kesadaran sendiri, menanami tepian pantai di Teluk Jakarta dengan bakau. Yang membuat kami malu adalah, itu semua dilakukan atas inisiatif sendiri, atas biaya sendiri. Semacam panggilan hidup untuk bersosial dengan alam yang sudah memberi begitu banyak manfaat. Saya haru mendengarnya,” ucap Menhut.
Di Pulau Lombok, banyak cerita soal Hutan Rakyat dan Hutan Kerakyatan yang dijadikan contoh bagi banyak negara peserta International Conference on Forest Tenure, Governance, and Entreprises (ICFTGE) di The Santosa Villas and Resort, Senggigi. Ratusan peserta, termasuk NGO dan wakil pemerintahan dari Amerika Latin, Afrika, China, Thailand, Vietnam, Nepal dan beberapa negara lain menyimak serius, program berjuluk hutan desa dan hutan kemasyarakatan itu. Memberdayakan masyarakat sekitar hutan untuk memanfaatkan bawah tegakan dengan kegiatan ekonomis.
Pujian serupa juga dia sampaikan kepada tokoh-tokoh yang sudi mengelola hutan dengan baik dan memberi kontribusi nyata buat kelestarian hutan dengan segala habitatnya. Tambling di Lampung misalnya, segala macam habitat alam ada di sana. Dari Harimau Sumatera, kerbau, kijang, siamang, semua hidup dalam alam bebas yang seimbang. Atau Taman Safari, yang menyulap hutan konservasi dan hutan Taman Nasional menjadi objek wisata edukatif dan tetap mengekspose hutan yang ideal. (don)
Berita Sebelumnya