Nalar Ajar Terusan Budi

Nalar Ajar Terusan Budi
Kamis, 22 September 2011
Sumber : Majalah TRUST, edisi 22 September 2011

Nalar Ajar Terusan Budi
Oleh
Indra J Piliang
Dewan Penasehat The Indonesian Institute, mantan Peneliti CSIS


40 tahun usia CSIS pada 15 September 2011 ini diperingati dengan seminar dan resepsi. Dan saya tidak menghadirinya, karena baru saja pulang dari kampung halaman. CSIS, Centre for  Strategic and International Studies, adalah satu-satunya lembaga kajian yang sudah berusia mapan. Ia dibentuk seiring dengan kemajuan pembicaraan seputar ASEAN pada 15 September 1971. Saya sempat bergabung dengan lembaga ini sejak 1 Desember 2000 sampai 31 Desember 2008. Saya bekerja sebagai staf Departemen Politik dan Perubahan Sosial. Karena lahir di bumi Pariaman pada 19 April 1972, usia CSIS lebih tua beberapa bulan dari usia saya.

Kiprah CSIS selama Orde Baru saya ikuti lamat-lamat dalam perbincangan di kalangan intelektual dan aktivis kampus. Begitu juga isu kedekatannya dengan Soeharto yang pada tahun 1970-an sampai 1980-an sibuk dengan konsep pembangunan.

CSIS disebut untuk sejumlah pertarungan (intelektual dan politik) di tahun 1970-an dan 1980-an itu. Kebetulan, tokoh pendirinya adalah Ali Murtopo dan Sudjono Humardani, dua orang yang menduduki posisi penting Soeharto, yakni sebagai Asisten Pribadi (Aspri). Gemuruh aksi mahasiswa pada tahun 1974, juga disebut bagian dari pergulatan yang melibatkan nama Ali Murtopo dan Jenderal Soemitro. Soemitro tersinggir dengan cara pengunduran diri.

Sampai pertengahan tahun 1980-an, CSIS memang dikenal dekat dengan Soeharto. Ali Murtopo juga dikenal sebagai sosok penting dalam pemenangan pemilu Golkar pada tahun 1971 dan 1977. Ali Murtopo juga yang menyusun risalah penting berjudul “Dasar-Dasar Pemikiran tentang Akselerasi Modernisasi Pembangunan 25 Tahun” yang diterbitkan tahun 1973 oleh Yayasan Proklamasi. Nah, Yayasan Proklamasi inilah yang menaungi CSIS sebagai organisasi think tank terkemuka, khususnya di bidang hubungan internasional dan ekonomi.

Pentingnya lembaga think tank ini sudah dipikirkan lama sebelum Yayasan Proklamasi dibentuk dan CSIS lahir. Pemikiran itu muncul dari para mahasiswa Indonesia yang umumnya kuliah di Jerman dan Perancis pada periode transisi Orde Lama ke Orde Baru. Banyak nama yang bisa disebut, antara lain Hadi Soesatro dan Daoed Joesoef.  Mereka kemudian menemukan kecocokan dengan dua bersaudara: Liem Bian Koen dan Liem Bian Kie (Sofyan dan Jusuf Wanandi) yang berkiprah dalam politik Orde Baru awal, terutama sebagai tokoh-tokoh gerakan mahasiswa UI. Ali Murtopo dan Sudjono Humardani adalah dua orang sosok penting di belakang Presiden Soeharto yang mendukung gagasan itu. Perkawinan antara dunia ilmu dengan dunia politik inilah yang kemudian menjadi titik api dalam dinamika CSIS berikutnya, termasuk dalam hubungannya dengan Golkar.

Eksistensi CSIS tidak lama di ranah (politik) pemerintahan. Hubungan itu bisa dikatakan berakhir pada pertengahan tahun 1980-an. Daoed Joesoef, misalnya, tidak lagi menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, sehingga konsep normalisasi kehidupan kampus yang dia susun hanya selesai pada tahap pertama. Konsep yang mendapat tantangan keras mahasiswa pada tahun 1978 itu menempatkan Daoed Joesoef sebagai pihak yang selalu kontroversial. Hanya konsistensi seorang Daoed Joesoef-lah yang menjadikannya sebagai sosok yang tetap mendapat tempat sampai hari ini.

***

Tentu, banyak nama yang bisa disebut dalam perjalanan CSIS. Misalnya, Mari Pangestu, salah seorang menteri penting dalam Kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam dua periode. Sosok yang masih mewakili “Partai CSIS” di pemerintahan. Termasuk juga perdebatan menyangkut pribumi dan non pribumi. Saya tak hendak memasuki ruang sumir itu. Saya banyak mendapat cerita di belakang dapur, terutama di saat jeda makan siang di kantor CSIS di Tanah Abang II yang sekarang sedang dibangun kembali, setelah diruntuhkan.

Yang patut dilihat menurut saya adalah kenapa CSIS bisa bertahan selama 40 tahun, ketika banyak organisasi yang bertumbangan, termasuk perusahaan? Saya kira, kuncinya terletak pada apa yang disebut sebagai Nalar Ajar Terusan Budi, satu moto yang melingkari lambang CSIS berupa seorang manusia telanjang yang sedang membaca sebuah buku (kitab). CSIS terpelihara, sekaligus termotivasi, untuk menerima ilmu pengetahuan dalam keadaan tanpa prasangka. Dari sanalah terbangun nilai-nilai yang menjadikan manusia yang menerimanya sebagai subjek, sekaligus objek ilmu pengetahuan.

Suasana itulah yang selama ini ada di CSIS. Sama sekali tidak ada pembicaraan yang menyangkut masalah-masalah politik praktis. Bahkan, kesan saya, peneliti CSIS bersikap apolitis. Karena saya menjadi analis politik dan perubahan sosial, maka teman-teman dari Departemen Ekonomi dan Departemen Hubungan Internasional menanyakan masalah politik kepada saya. Sebaliknya, saya juga bertanya bidang yang mereka kuasai. Namun, pembicaraan itu sangat terbatas, terutama di dalam acara makan siang atau ketemu di lantai dua, ketika ada kegiatan publik seperti seminar yang diadakan CSIS.

Para senior justru menekankan agar kami mencari ilmu pengetahuan yang lebih banyak lagi. Sehingga, tidak jarang peneliti CSIS mengambil kuliah di lebih dari satu kampus, lebih dari satu negara dan lebih dari satu bidang studi. Sesekali, CSIS mengadakan acara-acara kesenian, pameran lukisan dan terutama sekali mengundang ahli-ahli dari dalam dan luar negeri untuk menyampaikan makalah. Dalam kesempatan itu, relasi CSIS datang dari beragam kalangan.

CSIS juga hampir setiap saat kedatangan tamu, terutama dari luar negeri. Mereka bertemu pimpinan dan mendiskusikan masalah-masalah yang ada di Indonesia. Sudah bisa dipastikan, halaman parkis CSIS sering dikunjungi oleh mobil-mobil dengan plat CD (Corps Diplomatic). Belum lagi CSIS kebanjiran peneliti-peneliti dari luar negeri atau mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri, lalu menjadi kantor sementara mereka (fellow). Dengan mereka kami mendiskusikan apapun.

Yang paling penting adalah inisiatif masing-masing peneliti. Siapapun yang memiliki paper, tinggal melapor ke ketua departemen masing-masing, lalu dicarikan jadwal untuk presentasi di hadapan peneliti lain. Keadaan ini memaksa siapapun peka terhadap perkembangan baru di ranah ilmu pengetahuan, kutipan-kutipan, sampai titik-koma dalam penyusunan kalimat. Setiap presentasi adalah ajang bertukar ilmu pengetahuan. Para peneliti muda biasanya dikenakan kewajiban untuk hadir.

Riset biasanya dilakukan secara tim. Kadang melibatkan peneliti lintas departemen. Begitu juga pembuatan buku. Ketika terakhir kali menjabat sebagai Redaktur Jurnal Analisis CSIS, saya harus melobi para peneliti untuk mengisi setiap edisi. Tema masing-masing edisi ditentukan sebelum jurnal terbit. Kalau ada halaman yang masih tersisa, baru dimasukan artikel-artikel ilmiah dari kalangan peneliti luar yang rajin mengirimkan makalah atau karyanya ke Jurnal CSIS.

Suasana hening, khidmat dan penuh dengan argumen-argumen ilmiah itulah yang telah dijalani CSIS selama 40 tahun terakhir ini. Suasana yang sulit dipertahankan, apabila tidak ada ada komitmen tinggi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban. Bagi saya, CSIS adalah kumpulan beragam dosen di sebuah kampus yang tidak memiliki murid. Pertanggungjawaban sebuah karya terpulang kepada masing-masing peneliti, bukan institusi. Kalau ada peneliti yang berbicara sekenanya, biasanya ada srikandi CSIS, Mbak Clara Juwono, yang melakukan teguran dengan nada yang menyenangkan.  

Saya tentu merindukan kehidupan akademis pada level tertinggi seperti CSIS. Namun, terus-menerus berada di dunia itu lagi-lagi membutuhkan ketahanan mental yang tinggi. Karena, bisa jadi kita menjadi manusia yang kesulitan berbicara dalam bahasa non-akademis. Saya kira, itulah kesulitan pertama saya ketika memutuskan maju ke ranah politik, lalu berbicara berdasarkan apa yang ada di “pasar politik”. Apapun itu, saya merasa beruntung dan bangga pernah menjadi bagian dari institusi yang terhormat dan sarat dengan ilmu pengetahuan itu. Selamat Ulang Tahun, CSIS.
© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com