Di Balik Tumbangnya Akar Beringin

Testimoni Politisi Pencatat

Testimoni Politisi Pencatat
Kamis, 6 October 2011
Sumber : http://media.kompasiana.com/buku/2011/08/11/testimoni-politisi-pencatat-di-balik-tumbangnya-akar-beringin/

Testimoni Politisi Pencatat: Di Balik Tumbangnya Akar Beringin
Buku Mengalir Meniti Ombak (Memoar Kritis Tiga Kekalahan) Karya Indra Jaya Piliang

Selama negeri ini, dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, (2004-2009), sorotan masyarakat lebih banyak menukik ke sosok Kalla yang tegas dan berani mengambil kebijakan yang beresiko bagi dirinya. Bahkan, Kalla bisa dikatakan, salah satu wakil Presiden yang pernah dimiliki negeri ini dengan keberaniannya itu, lebih dibandingkan dengan wakil Presiden yang pernah ada.

Dalam hal kenaikan BBM misalkan, Kalla berkata: “Dalam hal kenaikan BBM dan impor beras, banyak teman-teman yang tidak berani tampil di depan media massa. Terpaksa saya lagi tampil didepan untuk menjelaskan. Saya bilang kalau mau demo ya demolah. Akan tetapi jika tidak mau naik (BBM) akibatnya begini-begini. Sebagai pemimpin saya ambil risiko. Kalau pemimpin tidak berani ambil risiko, berhenti saja jadi pemimpin.” (halaman 295)

Perjalanan Kalla sebagai Wapres rupanya hanya dijadikan bamper oleh  sang Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono. Yudhyono yang sebetulnya tak memiliki apa-apa, justru ratingnya naik, karena memiliki Wapres cerdas sekelas Jusuf Kalla. Bahkan, kejujuran Kalla itu, disampaikan langsung pada saat melakukan pertemuan dengan DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan, Makassar, 2 Mei 2009. (hal. 294)

Salah satu cerita menarik, diantara ratusan cerita yang membuat pembaca menikmati kisahnya adalah, perseteruan SBY yang tidak suka dengan ketegasan Jusuf Kalla. Bahkan, Jusuf Kalla mengaku, tidak pernah lagi ditemui oleh Menteri Keuangan yang saat itu dijabat Sri Mulyani sejak November 2008. Pendukung SBY pun memanfaatkan momentum itu dengan memanfaatkan media massa, bahwa JK sudah bercerai dengan SBY. Bahkan, situs resmi kampanye SBY, www.sbypresidenku.com, dengan mengeluarkan iklan bertajuk “SBY:Bukan Sekedar Bumper” (halaman 295).

Salah satu cerita diatas, bisa diperoleh dalam Buku Mengalir Meniti Ombak (Memoar Kritis tiga kekalahan) karangan Indra Jaya Piliang, peneliti CSIS dan juga politisi muda Partai Golkar yang diterbitkan oleh Penerbit Ombak tahun 2010.

Dari situlah, Kalla resmi menyingsingkan lengan baju dengan slogan : “Lebih Cepat Lebih Baik” saat mencalonkan diri sebagai Capres bersama Wapresnya Wiranto. Detil perjalanan itu, semakin aktual dan renyah dibaca, karena dilengkapi dengan kisah nyata dan testimoni dalam mengungkap proses perjalanan sampai mengungkap dibalik layar kekalahan Partai Golkar selama tiga kali pemilu. Hal tersebut terungkap jelas dari 12 sampai bab 27.

Buku ini, tidak membosankan. Dari bab 1 sampai 11, buku ini mengungkap perjalanan hidup Indra dari mulai sekolah, sampai aktivitasnya selama di ibukota. Baik sebagai peneliti di CSIS, suka duka menjadi calon anggota DPR dari Dapil Sumatera Barat, sampai masa-masa menegangkan ditengah konflik politik nasional.

Dijamin, bila pembaca membaca buku ini, akan hanyut dalam true story dan testimoni penulisnya. Berbagai peristiwa detil Partai Golkar era Jusuf Kalla dikupas tuntas. Termasuk, peran-peran dari lembaga survei yang ‘menggadaikan’ lembaga surveinya untuk kemenangan SBY-Boediono. Bahkan, bagaimana sebuah isu dikeroyok oleh orang-per orang tokoh, yang selama ini hanya kita lihat di televisi memainkan berbagai isu-isu politik demi mengejar kekuasaan.

Sebagai politisi muda, Indra J. Piliang sudah mengokohkan diri sebagai intelektual plus—dengan mengutip bahasa Meutya Viada Hafid—sebagai politisi pencatat. Selama ini, para politisi lebih senang membukukan kemenangan. Namun, indra justru mencatat kekalahannya, yang dikemas dalam buku yang menarik. Makanya, wajar jika sedikitnya 21 tokoh muda dari berbagai partai politik, pengamat, pekerja survei dan akademisi memberikan apresiai positif atas buku tersebut.

Jusuf Kalla sendiri yang diberikan kehormatan memberikan kata pengantar mengatkan, “buku ini layak dibaca oleh siapapun yang masih percaya, apa yang dinamakan dengan kekalahan hanya sekedar tempelan sesaat dari pengalaman hidup yang lebih kaya.” Selamat membaca. Semoga bermanfaat
© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com