Mewujudkan Negara Kesejahteraan
Mewujudkan Negara Kesejahteraan
Indra J Piliang
Dewan Penasihat The Indonesian Institute
Suara Karya, Selasa, 17 Januari 2012
Ada tiga fenomena menarik melingkupi kondisi bangsa memasuki era demokrasi dan reformasi sekarang ini. Apa maknanya?
Pertama, Indonesia adalah negara post-kolonialisme. Usia kemerdekaan Indonesia belum mencapai satu abad. "Kekejaman" kolonialisme bangsa-bangsa Eropa pun masih menjadi cerita yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Sebaliknya, perang-perang antarkerajaan merdeka di masa lalu telah menjadi energi yang menggerakkan sentimen-sentimen kedaerahan. Dalam alam demokrasi inilah tumbuh kembangnya apa yang dikenal sebagai dinasti politik, walaupun lewat jalur demokrasi prosedural seperti pemilu legislatif (pileg), pemilihan presiden (pilpres), dan pemilihan kepala daerah (pilkada).
Kedua, Indonesia sampai kini masih diserbu oleh produk-produk impor dari negara-negara besar seperti China, Amerika Serikat (AS), Jepang, sampai Malaysia, Thailand dan Vietnam. Jumlah penduduk Indonesia yang besar adalah "mulut menganga" bagi pelemparan hasil produk dari negara apa pun. Kurang berhasilnya Indonesia melakukan swasembada di pelbagai bidang menyebabkan mentalitas keindonesiaan kita terjepit di tengah arus global. Dan, pada gilirannya, pahlawan yang bercita kemandirian dan kebebasan, menjadi sosok perlindungan di dalam alam bawah sadar.
Ketiga, krisis kepemimpinan dan keteladanan di berbagai bidang. Bukan hanya di bidang politik dan pemerintahan, tetapi juga bisnis, ekonomi, militer sampai aktivis jalanan. Kapitalisme dalam banyak sisi muncul sebagai pemenang, sehingga nilai kepemimpinan dipenuhi dengan beragam transaksi berbasis uang. Jabatan-jabatan publik diperebutkan dengan sejumlah uang. Masyarakat akhirnya mencari pahlawan-pahlawan di masa lalu yang bergerak berdasarkan naluri dan idealisme.
Indonesia memiliki jumlah pahlawan nasional yang (ter-) banyak di dunia. Hampir semua jalan bernama. Dan, nama itu adalah nama-nama pahlawan, baik yang sudah ditetapkan sebagai pahlawan nasional maupun yang sekadar nama pahlawan di tingkat lokal.
Selain nama-nama jalan, Indonesia memiliki taman makam pahlawan dari tingkat nasional, provinsi sampai kabupaten dan kota. Penuh sesaknya nama-nama pahlawan itu menunjukkan Indonesia benar-benar dipenuhi oleh lautan (ke-) pahlawan (-an).
Pahlawan adalah sudut yang tepat untuk Indonesia kini mengadu kepada Indonesia lama--walau hanya selembar kertas atau sudut sempit di taman-taman makam pahlawan. Sebuah upacara menjadi penting guna menghilangkan segala bentuk penjajahan dalam alam nyata. Alam bawah sadar dibentuk, walau hanya dalam bentuk tafakur dan tabur bunga, betapa kebebasan dan perjuangan itu adalah makna tertinggi dalam kehidupan.
Dan, ini menjadi catatan penting bagi Partai Golkar yang sedang berjuang menegaskan lagi bentuk negara kesejahteraan (welfare state). Sebagai partai yang bergelimang sejarah dan berkubang pengalaman, makna kepahlawanan melekat dalam kelembagaan politik. Kepahlawanan bagi Partai Golkar adalah membangun keindonesiaan secara majemuk, nasionalis, sekaligus juga mengacu kepada kesejahteraan publik. Tanpa itu, Partai Golkar hanya bayang-bayang dalam upacara kepahlawanan yang kita peringati setiap tahun. ***