Jika dilihat dari pertemuan, hanya beberapa kali bertemu dengan Uda Indra dalam sebuah forum, terakhir kali saya bertemu, yakni ketika peluncuran buku karya Alfan Alfian di Universitas Paramadina..
Pertemuan itu begitu singkat, hanya beberapa detik saja..Akan tetapi, ada hal yang sangat saya maknai pertemuan ketika itu..Yakni, ketika sedang asyik terlibat obrolan ingin mendirikan JK Institute, pada saat itu saya ingin pamit pulang..Ketika itu, Uda Indra dengan cepat memberikan amanat kepada salah satu Senior saya (Arif Satria, red), yakni "titip Yosep ya Rif"..
Memang, jika ditelisik dengan masuk kuping kanan keluar kuping kiri, tidaklah berarti pemaknaan kata itu..Tetapi, setelah saya renungi, ternyata Uda Indra adalah orang yang sangat bersahaja, penuh perhatian, dengan suasana keakraban seorang sahabat, maupun kekeluargaan.. Saya sangat menyukai karya-karya yang telah beliau publish..Penggunaan kata demi kata yang membuat saya terhenyak dalam lamunan bahwa sosok seorang IJP memiliki ciri khas dalam berkarya..Tidak hanya bagi kaum menengah keatas yang menyukai, tetapi seperti kami yang senantiasa "hidup" di tepi jalanan sangat mendambakan sosok seperti beliau..
Beliau yang saya kenal adalah sosok Intelektual Politisi maupun Politisi Intelektual..Sangat jarang ditemui di bumi persada Indonesia ini..Klo pun ada, hanya dapat dihitunga dengan jari tangan..Indra Jaya Piliang adalah bagian dari Intelektual Organik Indonesia.. Karya-karya yang telah diciptakan SANGAT perlu untuk dilestarikan.. Bravo IJP.. Rakyat Indonesia Menantimu.... Yakin Usaha Sampai.....
Bang IJP, pertama kali mendengar namanya ketika pada tahun 2007. Saya disuruh oleh senior saya di Trisakti untuk menghubunginya dan meminta bang IJP agar mau menjadi salah satu pembicara pada seminar yang diadakan di Trisakti. Namun pada saat itu bang IJP sedang sibuk, jadi tak bisa hadir. Saya penasaran, tidak tahu bagaimana wajah bang IJP ini, sampai saat itu saya melihat di TV sedang berdebat membela Tim JK-WIN. Saya baru tahu ini ternyata abang yang membuat saya dimarahi sama senior saya, ternyata sekarang lagi debat di TV. Tersenyum senang saya melihatnya.
Lalu saya bingung kenapa abang ini susah sekali dihubungi?
Di dalam pikiran saya pasti bang IJP sedang sibuk di dalam dunia politik yang dinaunginya sekarang, sehingga tidak bisa hadir. Tetapi begitu kaget saya ketika waktu itu ada aksi di depan gd DPR RI yang menuntut kasus century dituntaskan. Saya melihat abang yang saya tonton di TV waktu itu sedang duduk di trotoar kotor di depan gerbang gd DPR RI bersama mahasiswa lainya yang sedang berorasi. Lalu saya duduk di sebelahnya sambil iseng bertanya "bang apa kabar?" Lalu dijawabnya "baik".
Karena saya tidak tau menanya apa, lebih baik saya diam saja takut menganggu bang IJP yang sedang sibuk dengan BlackBerrynya.
Tiba-tiba bang IJP itu bertanya "sudah makan belum?". Secara spontan saya menjawab "belum bang". Dengan spontan pula bang IJP menjawab "Kalau begitu ayo ikut saya, kita makan di situ!" sambil menunjuk para pedangng makanan gerobak yang ada di samping gd DPR RI. Saya mengikutinya bersama seorang fotografer yang dibawanya.
Sambil memakan tongseng yang dipesannya, saya mencoba untuk mengajak berbicara lumayan banyak. Saya bertanya hingga tidak terasa sudah habis makanan saya. Lalu saya merasa sedikit puas tau banyak tentang peristiwa politik yang sedang terjadi dari seorang peneliti politik yang luar biasa ini. Lalu terdengar suara memanggil dari belakang, ternyata teman saya memanggil untuk kembali ke kampus dan bergegas untuk membayar makanan.
Pada saat saya mengeluarkan uang tiba-tiba bang IJP berbicara "mahasiswa ga boleh bayar". Dengan muka bingung saya menjawab "terima kasih bang" sambil berpamitan untuk pulang. Lalu bang indra berkata "Terus berjuang, ya. Salam buat Ubed".
Di pembicaraan itu juga saya mengetahui bahwa bang IJP juga teman dari om saya, Ubedillah Badrun, salah satu tokoh idola saya .
Ketika di jalan menuju Grogol saya berpikir, ada seorang politisi yang namanya sudah terkenal di dunia politik indonesia mau ikut berjuang bersama mahasiswa di depan pagar yang begitu tinggi dan juga mau makan bersama mahasiswa di tempat makan yang mungkin bagi politisi sekelasnya itu tidak berkelas. Sejak saat itu saya mengikuti setiap tulisannya, baik di facebook ataupun di koran dan yang membuat saya ketagihan membaca buku Catatan Harian Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie .
Terima Kasih bang IJP secara tidak langsung telah banyak memberikan ilmu kepada saya, walaupun untuk kedua kalinya saya dimarahi karena tidak bisa mengundang bang IJP pada pelantikan Keluarga Mahasiswa Minang Jakarta Raya (KMM JAYA) pada bulan February 2010 dengan kata - kata yang sama pada waktu itu "saya sedang ada urusan" hehehe.
Semoga bang IJP terus berjuang bukan atas nama rakyat tetapi berjuang bersama rakyat !!